Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakaatuh
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Saya ingin berbagi, dengan anda. Berbagi bagaimana rasanya hidup saya. Dengan setiap hal yang telah saya lewati selama 17 tahun di dunia ini. Tangis dan tawa yang terkadang menjelma menjadi mimpi buruk di dalam tidurku, di setiap malamku.
Selama TK, saya mungkin belum mengerti apa-apa. Banyak yang saya terima namun saya tak memahami apakah itu. Mulai dari perbedaan perlakuan sampai menjadi seorang perusak. Pernah saudara saya dibelikan sebuah Mobil RC yang terbilang mahal pada saat itu, saya sangat menginginkannya namun bapakku tak punya uang pada saat itu. Pernah pula saya dibelikan sebuah Tamiya oleh kakakku saat ia masih charming, namun rusak karena saudara saya juga menginginkannya.
Semasa TK, saya selalu bermain bersama kakak, setiap ia pulang sekolah. Pernah suatu hari, saya mewarnai rambutku bersama kakak. Masa-masa indah menurutku. Saya pun diajarinya ilmu komputer, mulai dari hardware sampai software. Sampai kini aku memang bisa dikatakan melek terhadap teknologi.
Semasa SD, saya hanya belajar dan bermain. Itulah yang ada di otak saya. Dari SD, saya selalu merasa berbeda dari teman-teman. Mulai dari cara berpikir, bergaul dan berbicara. Bahkan perbedaan sangat terasa jelas saat saya pertama kali bermain bersama teman saya saat kelas 1, ke rumahnya. Perlakuan orang tuanya terhadapku, berbeda.
Di masa ini saya belajar untuk bisa berprestasi, tapi aku sadar bahwa saya tak pernah memiliki motivasi. Untuk apa aku memiliki banyak prestasi jika tak pernah ada apresiasi dari orang terdekat. Bahkan beberapa hari yang lalu saya sempat berpikir seperti itu saat saya menjuarai Lomba Menulis Artikel. Hal yang menyakitkan hadir saat saya mengajak teman-teman ke rumah dan bermain komputer milik kakak. Kakak pernah bilang, "ini semua milikku!" Saya tak mengerti apa-apa waktu itu, namun saya merasakan sakitnya saat SMA.
Di masa SD pula, saya kehilangan bapak. Saya dididik memang, namun saya rasa caranya yang salah. Saya sadar. Hingga kini, saya menyesal kenapa saya tidak jadi Afsal dengan pikiran kritisnya dari SD. Sekali lagi, tak ada motivasi.
Di SMP, saya merubah tatanan hidup saya. Saya masuk OSIS, mulai menjadi seorang yang memiliki bakat walau sifat kekanakan terkadang, masih ada. Kakak mulai berubah, mungkin karena saya semakin dewasa dan tak pantas lagi seperti dulu. Saya hanya berpikir bahwa sahabat saya lebih peduli dari pada keluarga, itu yang saya pikirkan.
Di sini pula saya memiliki opini bahwa keluarga saya hanya bisa memenuhi secara finansial. Saya iri, terhadap keluarga teman-teman. Ada yang kaya ada yang berkecukupan. Tapi mereka bahagia, tak pernah memiliki beban psikologis seperti saya. Semakin terasa sakit, semakin banyak hal positif yang saya lewatkan.
Masa awal SMA, hobi menulis saya ditingkatkan lagi, namun karena beban hati dan psikologis yang masih saya pikul membuat saya selalu stress, setiap malam terkadang menangis tidak jelas, merokok, dan berlaku kasar. Walau pernah saya memutuskan untuk berubah, namun lagi-lagi, keluarga yang mengembalikan saya seperti dulu.
Masa yang kini saya jalani, saya memutuskan berubah dan istiqomah. Hafal juz demi juz, belajar agama bab demi bab. Menjadi pendiam di rumah, karena mulai berprinsip lebih baik diam daripada tersakiti. Saya selalu ingin sendiri di rumah. Entah masih memiliki beban psikologis atau apa tapi aku selalu ingin sendirian di rumah. Memang aku tak punya uang kini, tapi usaha demi usaha aku jalani. Gagal bangkit lagi tapi keluarga saya tak tahu. Seandainya mereka tahu.
Mencari pekerjaan sana-sini. Buka bisnis sana-sini. Agar saya tak pusing memikirkan beban saya sendiri. Buku demi buku saya pelajari, perlombaan demi perlombaan saya juarai. Saya tak pernah merasa sekosong ini. Tetap saja, tak ada apresiasi, tak ada motivasi yang mengembalikan psikologis saya yang rusak.
Kini saya hanya bisa menjalani hidup penuh kesabaran, sampai ke jenjang perkuliahan. Saya tak ingin berada di kota ini, minimal di Bandung. Walau demikian saya tak pernah mau memutus silaturahmi, saya selalu mendoakan keluarga saya apapun yang saya alami. Mungkin sampai kini, saya dianggap perusak. Insya Allah, dengan usaha saya bersama dengan teman-teman saya, saya bisa jadi sukses.
Saya akan ganti semuanya, insya Allah.
Inti dari semua ini, belajarlah dari hidup dan masa lalu. Perbaiki semuanya di masa depan. Jadilah berbeda namun baik, selagi Ar-Rahman masih memberi pelajaran.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Twitter @afsalalfadi18
Instagram @afsal_alfadi
Komentar
Posting Komentar