Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Puji syukur kehadirat Allah tulisan ini bisa selesai dan sholawat serta salam selalu tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang sudah membawa kita ke jalan yang benar dan lurus.
Siapa sih yang tidak pernah merasakan jatuh cinta? Sebagai anak remaja memang rasa saling suka terhadap lawan jenis adalah hal yang wajar dan manusiawi karena itu juga adalah fitrah dari Allah.
Selama saya bersekolah dari SMP, saya sudah berkali-kali menyukai lawan jenis, hanya saja saya belum mengetahui apa itu cinta, bagaimana bentuknya, dan seperti apa efeknya. Berbicara soal zaman saya pun sempat berpacaran pada masa-masa jahiliyah saya jauh dari Allah. Namun Alhamdulillah, kini hijrah saya sudah mantap dan rencana mengabdikan diri terhadap Alquran dengan menjadi seorag Hafidz.
Beberapa waktu lalu saya sempat bermuhasabah diri, mengevaluasi terhadap apa yang saya kerjakan di masa lalu, saya berfikir soal cinta. Setelah saya teliti baik-baik ternyata yang saya lakukan selama ini salah, semuanya dilandasi nafsu semata. Alhamdulillah Allah memberi hidayah kepada saya. Penyesalan selalu ada tapi saya selalu menjadikan itu sebagai ibroh agar menggapai hidup yang lebih baik.
Tak lama saya mulai sharing kembali bersama salah satu teman saya (perempuan) yang sempat saya kagumi saat kelas X MA. Kami hanya berbincang soal kehidupan, berbagi pengalaman dan pandangan hidup. Namun ada hal yang sangat mengagetkan saya bahwa dia itu tidak konsisten dalam bercita-cita dan perencanaan kehidupan. Padahal dia adalah seorang rangking 1 di kelas (hingga kini) dan seorang pecinta ilmu pengetahuan.
Dia meminta saya untuk memecahkan setiap permasalahan hidupnya yang begitu monoton, beberapa hari kemudian saya dapat memecahkannya dengan membuatnya konsisten menjadi seorang dosen yang merupakan cita-cita dia sewaktu kecil, dengan membantunya memilih universitas yang cocok untuknya kelak, karena ia ingin mengajar Bahasa dan Sastra Inggris.
Tapi setelah itu, semuanya tampak biasa saja, nothing special. Kami belajar seperti biasa seperti tak pernah terjadi apa-apa. Berbincang hanya tanya jawab soal pelajaran semata. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di dalam diri saya. Saya selalu merasa bahagia saat dia tertawa, tersenyum bersama sahabat-sahabatnya. "Maadzallah, dosa Afsal dosa!" kataku dalam hati sambil kembali kepada buku yang aku baca.
Memang itu hal wajar untuk merasa bahagia saat saudara seiman bahagia, tapi ini berbeda. Padahal saya tak ingin merasakan hal seperti ini lagi sebelum saya sukses. Astagfirullah saya telah kufur nikmat saat itu. Untuk mencari jawaban, saya bertanya kepada Pemberi Persoalan. Setiap malam sebelum tidur saya selalu sholat istikharah terlebih dahulu, apakah perasaan yang sangat berbeda ini.
Beberapa hari kemudian saya bermimpi, bertemu dengan seorang bapak-bapak yang tak pernah saya lihat wajahnya, bapak itu tengah memperkenalkan seorang perempuan di sebelahnya yang ternyata adalah dia. Masya Allah, saya bangun karena kaget dan bertanya-tanya siapakah bapak-bapak itu. Melihat jam menunjukan pukul 03.00 saya langsung menenangkan diri dan mengambil air wudhu untuk tahajjud.
Saya tak memberitahukan ini padanya karena merasa malu. Tapi saya masih memikirkan hal itu sampai suatu hari saya mencoba memberitahukannya. Saat itu sebelum pelajaran olahraga, saya bertanya apakah dia mempunyai kakek, lalu dia bertanya yang dari ibu atau ayah. Di sana saya speechless sumpah! Sampai dia bertanya "emang kenapa?". Nah, baru di situ saya jelaskan.
"Ayah saya mungkin itu" jawabnya setelah saya menjelaskan ciri-ciri dari bapak yang ada dalam mimpi saya itu. Masya Allah saya tak pernah merasa sekaget, sebingung, dan seheran ini. Setelah itu, semuanya seperti biasa. Tak ada persoalan tambahan atau menjadikan kami lebih dekat. Tapi apa yang saya rasa? I feel maybe this is the true love.
Kenapa saya merasa demikian? Saya tak pernah dekat dengan dia, jarang sekali mengobrol dengan dia, memandangnya saja takut. Tapi saya selalu ingin mendoakan dia secara khusus, di sanalah saya selalu tersenyum, Allah memberikan saya jawaban akan cinta yang sebenarnya itu benar-benar hanya ada satu.
Dari Allah, untuk Allah, dan kepada Allah.
Saya diberi cinta oleh Allah, untuk menjadikan pribadi yang lebih mantap dalam menjalankan segala perintah-Nya, sampai nanti saya diambil oleh-Nya.
Saya sadar seberapa lucu dan cantik pun teman-teman sekelas (perempuan) saya tak pernah bisa berhenti mengatakan "sesungguhnya hamba mencintainya karena-Mu" dalam doa saya. Ini keagungan Allah, setelah saya mengerti, tak harus mengganggu sekolah, atau kegiatan lainnya. Apalagi ibadah, cukup doakan yang terbaik jika anda mencintai seseorang. Sudah merasa tenteram, bahagia pula. Tak perlu risih, Allah menjaganya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Dan klarifikasi bahwa foto dalam artikel ini adalah foto saya bersama salah satu sahabat di kelas dan dia bukan orang yang dibahas di tulisan ini.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Follow instagram @afsal_alfadi
Follow twitter @afsalalfadi18
Komentar
Posting Komentar