Jadilah Remaja yang Senang Bersyukur

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur kehadirat Allah saya dapat menulis kembali di blog ini setelah sekian lama hilang, semoga rahmat Allah selalu terlimpahkan untuk kita. Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada panutan kita Nabi Muhammad SAW.

Sebelumnya saya minta maaf jikalau saya lama sekali tidak muncul karena saya tengah melakukan perenungan, dan sampailah gaya penulisan yang baru seperti yang tengah anda baca ini.

Kali ini kita akan membahas mengenai syukur. Rasa syukur mungkin selalu kita panjatkan saat kita mendapatkan hal yang kita anggap menyenangkan dan menguntungkan sebagai rasa terima kasih kepada Tuhan atas apa yang telah kita terima. Tapi dalam judul kiriman ini ada kata "Remaja". Kenapa saya memasukan kata itu? Karena remajalah yang kebanyakan kurang bersyukur atas apa yang telah diterimanya sehingga lupa untuk apa dan untuk siapa remaja diberi kegagahan, ketangkasan, dan lain sebagainya dalam kehidupan ini. Kita akan bahas dengan ringan.

Remaja cenderung memikirkan hal yang instan dan bersifat menyenangkan menurut dirinya sendiri. Remaja terkadang akan bisa berfikir dua kali setelah mendapat akibat dari apa yang ia kerjakan sebelumnya. Sudah terbayang? Remaja cenderung mencari identitas diri dari hal yang memang ia sukai. Garis bawahi itu, sukai.

Dapat disimpulkan bahwa jika ada hal yang tidak disukai remaja menimpa dirinya maka ia akan merasa gusar dan geram dengan kata lain emosinya tidak stabil. Itu sebabnya pendidikan psikologi sangat dibutuhkan untuk menanggulangi hal ini. Oke, setelah membaca pernyataan di atas apakah bisa tergambar remaja seperti apa dirinya?

Terus apa yang salah? Ya itu tadi. Remaja akan gusar jika hal buruk menimpa dan senantiasa berfoya-foya saat bahagia. Nah, kalau sudah seperti itu berarti remaja tadi kurang bersyukur. Sekarang kita akan bahas bersyukurnya terlebih dahulu.

Bersyukur adalah rasa di mana kita memanjatkan rasa terima kasih terhadap apa yang dimiliki dan apa yang menimpa kita. Oke garis bawahi, miliki dan menimpa. Di sini akan terasa kebahagiaan yang lebih dalam jika kita mau bersyukur atas apa yang telah ditakdirkan oleh Allah. Mau itu buruk atau baik. Nah lho? Kok buruk juga? Coba berfikir lebih luas, gunakan otak kanan kita, jika ada saatnya kita tertimpa musibah seperti tersandung contohnya, itu musibah. Patut disyukuri kenapa? Alhamdulillah, hanya tersandung saja. Bagaimana jika tersandung, tersungkur lalu tergilas mobil? Naudzubillah.

Contoh lainnya, saat kita dihadang cobaan berupa disabilitas (tidak mempunyai kaki) contohnya. Patut disyukuri. Kenapa? Kita masih bisa bernafas, masih bisa beraktifitas dan berfikir. Itu karunia jangan disia-siakan. Untuk itu coba kita ubah mindset kita, jangan selalu memikirkan apa yang tidak kita miliki tapi kita harus memikirkan bagaimana kita memperdayakan apa yang sudah kita miliki menjadi hal yang lebih berguna. Jangan pula kita terpuruk saat musibah datang menghadang selagi ada kesempatan kita untuk bangkit bangkitlah.

Lalu bagaimana caranya menghubungkan antara remaja dan rasa syukur? Sebagai remaja (termasuk saya) kita harus (senantiasa) bersyukur dalam segala. Tulisan ini semata-mata bukan untuk mengajari anda (remaja) yang mungkin tengah membaca tulisan ini, tapi untuk membuka fikiran kita bahwa hidup ini singkat, zaman ini 'edan', dan moral ini sudah jatuh. Siapa lagi kalau bukan remaja yang menjadi penerus bangsa yang melanjutkan estafet kepemimpinan yang sudah pasti berada di depan mata kita?

Dengan tulisan saya ingin membuka fikiran anda dengan setiap pernyataan di atas. Ubahlah pola pikir kita, remaja terkadang galau dengan setiap permasalahan yang ada dalam dirinya tapi jika kita senantiasa bersyukur, Insya Allah kita akan selalu bahagia. Kita harus berpikir luas, berpikir panjang saat kita menghadapi sesuatu hal yang negatif, berpikirlah bahwa banyak hal positif di dalamnya.

Allah selalu bersama prasangka hambanya, berpikir positif kepada Allah, kepada diri sendiri, dan pada orang lain. Selalu tersenyum kapanpun, mengejar impian dengan menikmati proses dan mensyukurinya, remaja harus berpikir seperti itu. Sekolah tidak sekolah, semua punya kelebihan semuanya punya bagian (nasib) masing yang sudah ditentukan oleh Allah. Untuk apa kita menuntut lagi?

Pada dasarnya kesusahan, kesedihan, dan kesulitan yang menimpa diri kita adalah ulah dari apa yang kita lakukan pada masa-masa yang lalu. Coba bermuhasabah, saya yakin anda sependapat dengan saya.

Menulis ini saya merasa berguna dengan apa yang saya miliki, bakat menulis. Terkadang saya ingin jadi orang lain padahal dalam diri saya ada hal yang lebih besar dari itu. Sudah saya buktikan.

Sekarang giliran anda, berubahlah. Jadilah remaja yang berakhlakul kharimah, berilmu, dan berhati nurani. Dekatkan diri pada Allah, niscaya Allah akan dekat dengan kita.

Itulah akhir dari tulisan ini, semoga bermanfaat. Saya harap anda bagikan tulisan ini kepada teman-teman anda atau keluarga anda. Untuk Islam yang lebih kuat untuk Indonesia yang lebih baik.

Instagram @afsal_alfadi

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Komentar