Assalamualaikum kawan!
Maaf lama gak nulis, saya terlalu sibuk dengan kegiatan sekolah dan ekstrakurikuler. Tapi insya Allah, tulisan kali ini itu akan sangat bermakna sekali.
Membahas ucapan, kita pasti pernah mendengar perkataan "Ucapan adalah doa". Kali ini saya tidak akan mendeskr
ipsikan sebuah ilmu tapi bercerita mengenai hal yang sangat krusial di dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa saya membahas hal ini? Karena saya merasakan hal yang 'mungkin' berawal dari salah ucap yang saya lakukan.
Beberapa waktu lalu, saya sempat menulis berita untuk majalah sekolah yang tidak lain dan tidak bukan adalah ekskul saya, Karya Ilmiah dan Jurnalistik. Pada saat itu, saya menuliskan nama pembina ekskul saya dengan gelar yang 'belum' ia sandang sama sekali.
Drs. Lily Azies Saleh, M.Pd itulah nama pembina ekskul saya. namun saya tidak menuliskan namanya sesuai dengan semestinya. Wajar seorang jurnalis mempunyai kekeliruan mengenai tulis menulis. Penasaran ya apa salahnya? Hahaha.
Singkat cerita, saat tulisan saya tengah disunting oleh pembina saya, saya tidak merasakan hal yang aneh atau merasakan hal yang membuat saya gelisah. Santai saja.
Apa yang terjadi selan
jutnya? Pada saat penyuntingan berita saya tersebut, kebetulan saya pun ada di sekretariat ekskul, jadi saya bisa mendengar kritikan yang pembina saya berikan.
Apa yang ia katakan pada saya?
"Sal, gelar hajinya bapak aminin aja ya" ujarnya sambil tersenyum.
"Wah? Ada hajinya? Hehehe salah pak maaf" kataku dengan senyum kecil.
Pada saat itu, saya hanya menganggap itu kesalahan penulisan yang biasa aku lakukan karena memang saya masih kurang teliti dalam menulis.
Beberapa waktu kemudian, tepat saya menginjak kelas 11, pembina saya berangkat haji, dan bodohnya saya tidak menyadari kesalahan penulisan saya itu bisa menjadi berupa doa.
Saya baru ingat kejadian itu seminggu setelah berpulangnya pembina saya dari tanah suci dan saya langsung menulisnya.
Apa yang kita dapat? Ucapan adalah doa. Mulutmu harimaumu, walau saya belum tahu bahwa apakah kesalahan saya itu menjadi doa yang mengabulkan harapan pembina saya berangkat haji. Tapi sadarilah bahwa ucapan kita itu, suatu saat pasti terjadi.
Contohnya, sejak kecil saya selalu ingin segera tumbuh besar. Apa yang terjadi? Ucapan saya bisa terkabul, pastinya dengan izin Allah.
Apapun itu, jagalah ucapan kita. Selalu ucapkan kata-kata terbaik, Allah itu maha mendengar apa yang hambanya katakan.
Semoga tulisan ini bermanfaat, oh ya follow Instagram @afsal_alfadi ya dan Twitter baru saya @_alfadi18
Sedikit curhat, twitter saya sering dibanned hehe. Jadi follow ya.
Sampai jumpa di tulisan berikutnya
Wassalamualaikum!
Maaf lama gak nulis, saya terlalu sibuk dengan kegiatan sekolah dan ekstrakurikuler. Tapi insya Allah, tulisan kali ini itu akan sangat bermakna sekali.
Membahas ucapan, kita pasti pernah mendengar perkataan "Ucapan adalah doa". Kali ini saya tidak akan mendeskr
ipsikan sebuah ilmu tapi bercerita mengenai hal yang sangat krusial di dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa saya membahas hal ini? Karena saya merasakan hal yang 'mungkin' berawal dari salah ucap yang saya lakukan.
Beberapa waktu lalu, saya sempat menulis berita untuk majalah sekolah yang tidak lain dan tidak bukan adalah ekskul saya, Karya Ilmiah dan Jurnalistik. Pada saat itu, saya menuliskan nama pembina ekskul saya dengan gelar yang 'belum' ia sandang sama sekali.
Drs. Lily Azies Saleh, M.Pd itulah nama pembina ekskul saya. namun saya tidak menuliskan namanya sesuai dengan semestinya. Wajar seorang jurnalis mempunyai kekeliruan mengenai tulis menulis. Penasaran ya apa salahnya? Hahaha.
Singkat cerita, saat tulisan saya tengah disunting oleh pembina saya, saya tidak merasakan hal yang aneh atau merasakan hal yang membuat saya gelisah. Santai saja.
Apa yang terjadi selan
jutnya? Pada saat penyuntingan berita saya tersebut, kebetulan saya pun ada di sekretariat ekskul, jadi saya bisa mendengar kritikan yang pembina saya berikan.
Apa yang ia katakan pada saya?
"Sal, gelar hajinya bapak aminin aja ya" ujarnya sambil tersenyum.
"Wah? Ada hajinya? Hehehe salah pak maaf" kataku dengan senyum kecil.
Pada saat itu, saya hanya menganggap itu kesalahan penulisan yang biasa aku lakukan karena memang saya masih kurang teliti dalam menulis.
Beberapa waktu kemudian, tepat saya menginjak kelas 11, pembina saya berangkat haji, dan bodohnya saya tidak menyadari kesalahan penulisan saya itu bisa menjadi berupa doa.
Saya baru ingat kejadian itu seminggu setelah berpulangnya pembina saya dari tanah suci dan saya langsung menulisnya.
![]() |
| Saya paling ujung kiri dengan olahraga warna biru |
Contohnya, sejak kecil saya selalu ingin segera tumbuh besar. Apa yang terjadi? Ucapan saya bisa terkabul, pastinya dengan izin Allah.
Apapun itu, jagalah ucapan kita. Selalu ucapkan kata-kata terbaik, Allah itu maha mendengar apa yang hambanya katakan.
Semoga tulisan ini bermanfaat, oh ya follow Instagram @afsal_alfadi ya dan Twitter baru saya @_alfadi18
Sedikit curhat, twitter saya sering dibanned hehe. Jadi follow ya.
Sampai jumpa di tulisan berikutnya
Wassalamualaikum!


Komentar
Posting Komentar